Saturday, July 2, 2016

Perihal Gagal


Ya... selama ini jadi orang paling tidak serius di dunia, kali-kali mau berserius.

Dan mau jujur, sejujur-jujurnya.

/heavy breathing/


Kalau saya ngomong saya merasa kecil, orang suka marah-marah dikira merendah. Padahal sejak suatu hari di kelas 11, saya memang tidak pernah lagi berani yakin sama diri sendiri.

Waktu itu saya terpilih secara ajaib mengikuti satu lomba yang prestisius di Kota Bogor. Sudah mempersiapkan semampunya, mengumpulkan ide, kesana kemari membentuk konsep-konsep yang saya menangkan ketika presentasi di depan kepala sekolah. Sudah mengucap doa-doa dan semoga-semoga walaupun sejujurnya dalam hati belum siap. Tekanannya terlalu banyak. Disorot. Dipelototi.

Alhasil karena tidak fokus, saya kesulitan bukan main menghadapi soal-soalnya. Pulang-pulang saya sesenggukan. Dan ternyata benar, saya tidak lolos tahap pertama.

Sedihnya bukan karena saya gagal sebagai individu, tapi saya menggagalkan suatu institusi. Malu. Mau tenggelam. Mau mati.

Terlebih ketika beberapa hari setelahnya saya dapat ucapan selamat dari guru-guru sekolah sebelah yang disampaikan melalui pembimbing saya;

"Smansa kenapa, Pak? Kok tumben kalah? Sepertinya salah pilih orang."

Iya,

kalau saat itu saya mati, sepertinya akan jauh, jauh lebih melegakan.

Tapi sayangnya, saya masih hidup. Jadi saya harus telan habis-habisan sakit hatinya.

Begitu selesai senyam-senyum mencoba tegar, saya lari ke kelas, menangis di belakang meja. Malu. Mau tenggelam. Mau mati. Ulangi sampai ribuan kali.

Saya malu sudah merasa diri mampu. Saya mencoba cari-cari kambing hitam dari gagalnya saya sendiri. Saya menyalahkan orang-orang yang percaya sama saya. Entah apa yang mereka pikirkan sampai berani-beraninya menggantukan harap dan cita di orang lemah macam ini. Saya merutuki tipe soal yang tidak jelas, hilang angka, banyak ralat-ralat yang terlupa. Saya menghujat panitia pemilih representatif karena sudah membebani saya dengan Smansa selalu menang, kamu harus menang. Bahkan sempat saya mengutuk Tuhan yang sudah tega-teganya membuat saya dipermalukan dan dihinakan sebegininya.

Kalau ingat masih suka nangis......dan traumanya selalu mengikuti dari belakang.

Karena itu ketika akhirnya pengumuman SNMPTN keluar dan orang-orang memberi cap saya orang berhasil, saya tersinggung habis-habisan. Kalian tidak pernah paham rasanya jadi orang kecil yang diberi kepercayaan sebegini besarnya. Saya ini...gagal terhindar dari tanggung jawab.

Melihat harap-harap adik kelas yang ingin menambah kuota, melihat harap-harap sekolah agar namanya diperindah, melihat harap-harap orang tua saya yang ingin saya jadi orang berguna, semuanya membuat saya semakin kecil, semakin inferior, semakin takut.

Saya betul-betul terbebani, sungguh.

Berkali-kali saya tanya sama Tuhan apakah karena saya menghujat-Nya perihal gagal waktu itu, Tuhan jadi sebegini bencinya sama saya. Apakah Tuhan begitu tersinggung perihal kalimat saya yang begitu kasar waktu itu sehingga Ia tidak segan-segan memberi saya tanggung jawab sebegini besar, kemudian memerintahkan hamba-hambanya untuk memelototi saya.

Sayangnya, tidak pernah dijawab.

Jadi saya membuat satu asumsi pribadi yang sebenarnya privasi: Tuhan menggeret saya kemari untuk mempermalukan saya, lagi. Untuk menggagalkan saya lagi. Mau mengecilkan saya lagi. Mau membuat saya kelimpungan lagi. Ah, pasti karena saya marah-marah. Pasti Tuhan masih tersinggung.

Kufur nikmat, you name it, tapi pemikiran ini tidak pernah bisa lepas menggerogoti. Saya paham ada ribuan orang yang ingin bertukar posisi dengan saya. Dan justru karena itu, menggenggam impian dan doa ribuan orang yang penuh mimpi itu membuat saya lagi-lagi semakin kecil. Saya tidak sehebat itu, jangan berharap apa-apa dari saya. Saya tidak mau menggagalkan kalian, atau smansa, atau siapapun. Saya belum siap mau tenggelam lagi.

Jadi, jauh-jauh, jangan berharap, jauh-jauh.

Saya pasti gagal lagi.

Pasti,

pasti,

pasti.

Doakan Tuhan cepat sembuh tersinggungnya, agar saya bisa dibesarkan sedikit demi sedikit.

No comments:

Post a Comment