Saturday, May 14, 2016

Warna (2015)


Kamu dengan tembang jawa yang diklasikkan, atau gitar yang masih mendengungkan ketimuran. Sedih, temaram, misterius--kadang tidak sengan dibuat. Sudahkah sangat mendarah daging?
Saya, dengan lagu tempo sedang, nada ceria, lirik lirih, syahdu dibawa kesenangan. Musik yang katamu rempah-rempah; sedap bagi banyak kalangan, tercampur beragam rasa, tapi kamu tidak suka. Terlalu pedas, aneh. 
Kita selalu banyak beda. Bertolak jauh. Banyak dan sedikit bicara. Kertas dan mesin ketik. Merah muda dan kelabu. Jelas, saya merah mudanya. Kamu selalu agak kelabu. Tapi, toh, kamu bahagia juga. 
Saya lebih suka menulis rangkaian cerita.
Kamu lebih jago menulis kode-kode informatika. 
Saya lebih suka iced caffe latte dingin.
Kamu, tentu, capuccino hangat. 
Saya terkesima dengan petikan gitar.
Kamu mengagungkan tuts piano.  
Tapi seringkali kita menertawakan hal yang sama. Meledak-ledakkan hal yang sama. Menghujat permainan Gardika di konsernya. Jauh-dekat kita tidak banyak beda, jauh-dekat kita tidak banyak sama. Kombinasinya sudah tepat untuk mencipta warna-warna. Karena bila kelabu ditimpa abu-abu, tentu akan muram. Bila merah muda ditimpa jingga, tentu buat sakit mata. Mati, katanya. 
Jadi kelabu dan merah muda itu tidak masalah, kan? Biar tetap hidup, ramai rasa, ramai warna.

Hmm.

Ceritanya lagi beres-beres kamar dan diary, terus buka buka tulisan lama. Eh ada ini.

No comments:

Post a Comment